Berbicara
Released on · 2660 Views · Posted by clampschool ·
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Ragam Aspek Berbahasa
Hakikat belajar bahasa adalah
belajar berkomunikasi. Hakikat belajar sastra adalah memahami manusia dan
nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, hakikat pembelajaran bahasa dan
sastra Indonesia
ialah peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
yang baik dan benar secara lisan dan tulis.
Sedangkan aspek berbahasa merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak bisa dipisahkan mulai dari aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berbicara merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Si pembicara berdudukan sebagai komunikator sedangkan pendengar sebagai komunikan. Informasi yang disampaikan secara lisan dapat diterima oleh pendengar apabila pembicara mampu menyampaikannya dengan baik dan benar. Dengan demikian, kemampuan berbicara merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan. Keempat aspek bahasa tersebut harus dikuasai betul oleh seorang pelajar.
Sedangkan aspek berbahasa merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak bisa dipisahkan mulai dari aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berbicara merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Si pembicara berdudukan sebagai komunikator sedangkan pendengar sebagai komunikan. Informasi yang disampaikan secara lisan dapat diterima oleh pendengar apabila pembicara mampu menyampaikannya dengan baik dan benar. Dengan demikian, kemampuan berbicara merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan. Keempat aspek bahasa tersebut harus dikuasai betul oleh seorang pelajar.
B.
Tujuan Pembelajaran Bahan Ajar
Adapun
maksud pembelajaran bahan ajar dalam Bahasa Indonesia adalah agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berkomunikasi secara efektif dan
efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
2. Menghargai dan bangga
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara.
3.
Memahami bahasa Indonesia
dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk
meningkatkan kemampuan intelektual,
serta kematangan emosional dan sosial.
5. Menikmati dan memanfaatkan karya
sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
6. Menghargai dan membanggakan
sastra Indonesia sebagai
khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
|
Standar
Kompetensi
|
Kompetensi
Dasar
|
|
Mendengarkan
13. Memahami unsur instrinsik
novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
|
13.1
Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang
dibacakan
13.2
Menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
13.3
Mendeskripsikan alur novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan
|
|
Berbicara
14. Mengapresiasikan kutipan novel
remaja (asli atau terjemahan) melalui kegiatan diskusi
|
14.1
Mengomentari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan)
14.2
Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan)
|
|
Membaca
15. Memahami buku novel remaja
(asli atau terjemahan) dan antologi puisi
|
15.1
Menjelaskan alur cerita, pelaku dan latar novel remaja (asli atau terjemahan)
15.2
Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi
|
|
Menulis
16. Mengungkapkan pikiran, dan
perasaan dalam puisi bebas
|
16.1
Menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai
16.2 Menulis puisi bebas dengan memperhatikan
unsur persajakan
|
Berbicara
Berbicara
adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran
secara efektif, maka sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin
dikomunikasikan. Dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para
pendengarnya. Di samping itu dia juga harus mengetahui prinsip-prinsip yang
mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.
Ketrampilan berbicara (speaking skills)
merupakan salah satu dari empat ketrampilan berbahasa disamping ketrampilan
menyimak (listening skills),
ketrampilan membaca (reading skills),
dan ketrampilan menulis (writing skills).
Berbicara
sebagai seni dan sebagai ilmu, jika kita memandang berbicara sebagai seni maka penekanan
diletakkan pada penerapannya sebagai alat komunikasi dalam masyarakat.
Sedangkan butir-butir yang mendapat perhatian antara lain :
(1) Berbicara di muka umum.
(2) Semantik (pemahaman makna kata).
(3) Diskusi kelompok.
(4) Argumentasi.
(5) Debat.
(6) Prosedur parlementer.
(7) Penafsiran lisan.
(8) Seni drama.
(9) Berbicara melalui udara.
Sedangkan jika kita memandang berbicara sebagai ilmu maka
hal-hal yang perlu ditelaah antara lain :
(1) Mekanisme bicara dan mendengar.
(2) Latihan dasar bagi ujaran dan suara.
(3) Bunyi-bunyi bahasa.
(4) Bunyi-bunyi dalam rangkaian ujaran.
(5) Diftong.
(6) Konsonan.
RAGAM SENI BERBICARA
Secara garis besar berbicara dibagi atas :
I. Berbicara
di muka umum pada masyarakat (public
speaking) yang mencakup empat jenis, yaitu :
a) Berbicara dalam situasi yang bersifat memberitahukan
atau melaporkan; yang bersifat informatif (informatif
speaking). Berbicara untuk melaporkan, untuk memberikan informasi
dilaksanakan jika seseorang berkeinginan untuk :
·
memberi atau
menanamkan pengetahuan;
·
menetapkan atau
menentukan hubungan-hubungan antara benda-benda;
·
menerangkan atau
menjelaskan suatu proses;
· menginterpretasikan
atau menafsirkan sesuatu persetujuan ataupun menguraikan sesuatu tulisan.
b) Berbicara dalam situasi yang bersifat kekeluargaan,
persahabatan (fellowship speaking).
c) Berbicara dalam situasi yang bersifat membujuk,
mengajak, mendesak, dan meyakinkan (peasuasive
speaking).
d) Berbicara dalam situasi yang bersifat merundingkan
dengan tenang dan hati-hati (deliberatie
speaking ).
Keterampilan
berbicara menunjang keterampilan bahasa lainnya. Keterampilan berbicara
menunjang pula keterampilan menulis, sebab pada hakikatnya antara berbicara dan
menulis terdapat kesamaan dan perbedaan. Dua-duanya bersifat produktif,
dua-duanya berfungsi sebagai penyampai penyebar informasi. Bedanya terletak
pada media, bila berbicara menggunakan media bahasa lisan, maka menulis
menggunakan bahasa tulisan.
Manusia
adalah makhluk sosial. Manusia akan menjadi manusia bila hidup dalam lingkungan
manusia. Lingkungan hidup manusia dapat berwujud aneka bentuk, lingkungan
terkecil keluarga, dapat pula dalam bentuk pranata sosial lain, seperti
perkumpulan agama, sosial, olahraga, kesenian, profesi, dan sebagainya.
Dalam
kehidupan sehari-hari ternyata manusia dihadapkan dengan berbagai kegiatan yang
menuntut keterampilan berbicara. Dialog dalam lingkungan keluarga antara anak
dan orang tua, antara ayah dan ibu.
Di
luar lingkungan keluarga juga terjadi percakapan, diskusi antara teman dengan
teman, tetangga dengan tetangga, kawan sepermainan, teman kerja, dan lain-lain.
Dalam semua situasi tersebut di atas dituntut keterampilan berbicara setiap
individu yang ikut berpastisifasi.
Berbicara
sangat berperan penting dalam pendidikan keluarga, pengajaran tatakrama selalu
disampaikan atau diajarkan secara lisan.
Keterampilan
berbicara dan kepemimpinan saling mempengaruhi, orang yang pintar berbicara
cenderung maju kedepan. Ia juga cepat menarik perhatian orang.
Ada
beberapa butir penting yang harus diperhatikan oleh guru bahasa Indonesia pada
garis-garis besar program pengajaran mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia pada
kurikulum 1984.
1. Tujuan
kurikuler pengajaran bahasa Indonesia mengarah kepada keterampilan berbahasa.
2. Pokok
bahasan meliputi enam butir yang selalu berulang namun berbeda dalam isi atau
materi, yaitu:
a. Membaca.
b. Kosakata.
c. Struktur.
d. Menulis.
e. Pragmatik.
f. Apresiasi
bahasa dan sastra Indonesia.
3. Secara
eksplisit hanya dua dari keterampilan berbahasa yang muncul yakni keterampilan
membaca dan menulis/ keterampilan berbahasa tulis.
4. Keterampilan
menyimak dan berbicara tidak dinyatakan secara eksplisit.
5. Keterampilan
menyimak dan berbicara secara inplisit tersirat dalam pokok bahasan pragmatik dan
juga dalam apresiasi bahasa dan sastra.
Komentarlah dengan sopan, dan sorry yang pake anonim ane anggap SPAM